Rabu, 27 Februari 2013

Mahasiswa Unhas Bentrok Lagi


Dua fakultas, Fakultas Sospol dan Teknik, di Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, kembali terlibat bentrokan, Selasa (26/2). Bentrokan terjadi beberapa jam sebelum Mahkamah Konstitusi (MK) membacakan putusan atas sengketa pilgub Sulsel.

Rencananya, di kampus Unhas akan digelar video confrence sengketa pilgub, langsung dari MK.

Tak jelas pemicu bentrokan ini. Dari keterangan saksi mata, Said yang merupakan sekuriti kampus, mengatakan tawuran antarmahasiswa Teknik dengan Sospol dipicu oleh kabar adanya mahasiswa Sospol yang dianiaya oleh mahasiswa Teknik.

"Tapi pihak Teknik juga mengatakan, katanya mahasiswa Teknik yang justru dipukul sama anak Sospol," jelas Said.

Akhirnya kedua belah pihak saling serang. Bentrokan terjadi sekitar pukul 12.45 Wita. Tak ada korban luka dalam insiden ini, namun terjadi kerusakan pada kaca jendela pada bagian samping Baruga Andi Pettarani.

Bentrokan berlangsung hampir satu jam, sebelum kemudian diredakan setelah Wakil Rektor III Unhas Nasaruddin Salam, tiba di TKP selanjutnya mencoba mempertemukan kedua belah pihak. Di tengah keduanya Nasaruddin mengimbau agar sama-sama menahan diri untuk tidak melakukan pelemparan. "Mari kita sama-sama saling menahan diri anak-anakku, mari berpikir dewasa semuanya," katanya.

Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Endi Sutendi, mengatakan untuk melakukan antisipasi agar bentrokan tidak terjadi, aparat kepolisian akan disiagakan di TKP. "Kami siagakan aparat kepolisian agar bisa mencegah terjadinya bentrok susulan," ucapnya.

Teten Masduki : Banyak Aktivis Mahasiswa Berubah Ketika Masuk Politik

Banyak orang menghawatirkan seorang aktivis terjun ke dunia politik. Kekhawatiran itu karena banyak aktivis yang terjun ke politik kemudian tak terdengar lagi suaranya.

Pengalaman itu dirasakan, aktivis anti korupsi, Teten Masduki. Banyak orang kaget ketika dirinya mencalonkan diri sebagai wakil gubernur Jawa Barat.

“Ketika saya masuk ke politik elektoral sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat. Memang banyak yang kaget dan tidak percaya. Mereka khawatir saya akan rusak,” kata Teten dalam diskusi buku Teten Masduki Panglima Domba Melawan Korupsi,” di Gramedia Matraman, Jakarta, Selasa, (12/01/2013).

Menurut Teten, hal itu dikarenakan banyak aktivis mahasiswa yang telah terjun ke dunia politik justru tidak kedengaran lagi suaranya. “Bukannya dia membuat perubahan namun aktivisnya yang berubah,” jelas Teten.

Teten mengaku, ia masuk ke politik karena ingin membuat kultur politik baru. Tapi banyak orang ragu-ragu mengenai tujuannya itu. Ia masih dikawatirkan masyarakat. “Saya dibebani realitas seperti itu,” jelas Teten.

Menurut Teten, untuk melakukan perubahan, dibutuhkan kepekaan. Namun tidak banyak orang yang seperti itu. Teten sendiri terjun berpolitik karena ingin melanjutkan pengabdiannya kepada publik melalui jalur birokrat. ”Saya lihat ada peluang untuk itu. Melakukan perubahan dari daerah itu adalah yang paling mungkin,” kata Teten.

Teten Masduki dikenal sebagai aktivis anti korupsi. Pada tahun 1998 ia mendirikan Indonesian Corruption Watch (ICW). Kemudian ia memimpin Transperency International Indonesia (TII). Dia juga sosok dibalik pemogokan buruh pertama dan terbesar di masa orde baru. Saat ini ia mencalonkan sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat.

Bukannya Buruk, Pendidikan RI Hanya Perlu Dibenahi


Buruknya kondisi mutu pendidikan Indonesia, ditambah lagi penerapan kurikulum baru yang terkesan buru-buru membuat cemas banyak pihak. Bagi banyak pendidik, kondisi ini akan mendorong Indonesia seperti berada di zaman batu pada era globalisasi. 

Menurut Anggota Komisi X DPR RI, Rohmani, situasi tersebut tidaklah sepenuhnya salah. Artinya, memang ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dalam pendidikan Indonesia, salah satunya adalah kurikulum. 

Rohmani memaparkan, meski diperlukan, perubahan kurikulum haruslah diawali dengan riset menyeluruh terlebih dahulu. "Kita perlu mencari tahu, apa kekurangan-kekurangan kurikulum sebelumya, lalu dievaluasi dan segera dibenahi," ujar Rohmani ketika dihubungi Okezone, Rabu (27/2/2013). 

Hal kedua yang perlu diperbaiki, imbuh Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini adalah pelaksanaan ujian nasional (UN). Menurutnya, UN seharusnya tidak dijadikan standar kelulusan, karena para guru dan siswa nanti hanya akan fokus dengan bagaimana cara mengerjakan soal agar lulus dalam UN. 

"Dan hal itu akan membuat siswa kurang kreatif. UN seharusnya hanya dijadikan pemetaan," imbuhnya. 

Dalam sebuah laporan mendalam yang dikeluarkan Aljazeera baru-baru ini, Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terburuk di dunia. Al Jazeera memotret buramnya pendidikan Indonesia lewat kacamata sukarelawan guru dan siswa di daerah terdepan, terluar, dan terpencil (3-T), serta dibandingkan dengan penilaian siswa di perkotaan. Liputan ini juga menyoroti buruknya mutu guru dan infrastruktur sekolah sebagai penunjang merosotnya kualitas pendidikan Indonesia.

Lulusan Keuangan Harus Sesuai Kompetensi di Masyarakat


Pertumbuhan bisnis di Indonesia cukup tinggi. Oleh karena itu, lulusan bidang keuangan dengan kualitas terbaik menjadi target utama yang dicari oleh pihak perusahaan. 

Menyadari pentingnya melahirkan lulusan bidang keuangan yang berkompeten, berbagai sekolah bisnis pun menyiapkan para mahasiswa mereka sesuai kebutuhan dunia kerja. Hal ini pula yang dilakukan Bina Nusantara (Binus) Business School yang menggelar seminar bertajuk "Build Your Career on Financial Field, Are You Ready?”

Menghadirkan Senior Financial Advisor Akbars Financial Checkup (AFC) Aidil Akbar Madjid, kegiatan yang berlangsung di Kampus Business School itu mendapat antusiasme dari para peserta. Bahkan, sejumlah mahasiswa maupun profesional di luar kampus Binus turut hadir dalam seminar tersebut.

Dia menyebut, para lulusan keuangan hendaknya memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh masyarakat/pasar. Selain itu, kompetensi yang tidak hanya berbasis pada teori tapi juga berbasis ilmu praktikal.

"Kita bagus berpatokan pada teori tapi juga berpatokan praktisnya seperti apa. Contoh dalam investasi di bursa banyak sekali terjadi anomali. Dalam teori harusnya nilai saham naik tapi ternyata turun atau sebaliknya. Dengan praktik, saat selesai pendidikan, mahasiswa bisa langsung terjun ke masyarakat," ujar Aidil kepada Okezone selepas seminar tersebut, di Kampus Binus, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa 26 Februari malam.

Aidil mengimbuh, banyak bentuk latihan yang dapat dilakukan mahasiswa di jurusan keuangan untuk siap terjun di masyarakat kelak. Dia mencontohkan, untuk bidang investasi, mahasiswa harus punya rekening investasi. Demikian pula ketika mereka tentang reksa dana, mereka harus punya rekening reksa dana.

Saat mempelajari asuransi, lanjutnya, mahasiswa harus punya polis asuransi, sudah mulai mencicil. Sementara ketika belajar emas, mereka pun harus membeli emas batangan.

"Tidak sampai di situ. Mereka dari jurusan investasi yang mau trading, harus melakukan transaksi jual beli untuk merasakan feelnya. Rugi enggak masalah. Itu bagian dari investasi. Nantinya mereka akan belajar mengapa mereka bisa rugi dan bagaimana cara supaya tidak merugi lagi," tuturnya.

Cerita Mengelola Uang Saku



Urusan kantong memang jadi masalah bagi semua kalangan, termasuk mahasiswa, apalagi yang statusnya mahasiswa rantau. Terkadang, uang menjadi kendala ketika menjalani perkuliahan.

Sebagai mahasiswa rantau, kita pasti mendapat kiriman uang rutin dari orangtua di kampung halaman. Biasanya, kiriman uang datang sebulan sekali. Ada juga yang menerima uang saku mingguan. Sementara itu, mahasiswa yang tidak merantau biasa mendapatkan uang jajan setiap hari. 

Salah satu mahasiswa yang mendapat kiriman uang setiap bulan adalah Ziah. Dalam sebulan, dia harus mampu mengatur uang Rp1,5 juta yang dikirimkan orangtuanya untuk kebutuhan kuliah dan hidup sehari-hari. Jumlah tersebut, diakui mahasiswa Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) ini masih kurang. 

"Saya termasuk boros. Kalau sudah kekurangan, ya, paling enggak jajan selama beberapa hari," jawab Ziah lewat Blackberry Messenger kepada Okezone, Rabu (27/2/2013). 

Meski suka merasa kekurangan, Ziah mengaku selalu membagi uang bulanannya ke dalam beberapa pos pengeluaran. Misalnya untuk ongkos, makan, belanja, dan tabungan. "Dengan begitu, jika tiba-tiba uang saya kurang, saya bisa memakai tabungan untuk keperluan mendadak," imbuhnya. 

Lain halnya dengan Tika. Mahasiswi Universitas Indonesia (UI) ini mendapat uang jajan lebih sedikit dari Ziah, hanya Rp 1 juta per bulan. Namun, Tika mengaku tidak selalu kekurangan dengan nominal itu. "Pernah sih kekurangan. Jadi ya saya benar-benar menghemat uang jajan dan memangkas keperluan yang sifatnya enggak terlalu penting," tutur Tika.

Setiap mahasiswa tentunya mempunyai kebutuhan dan gaya hidup yang berbeda-beda. Karena itu, jika uang jajan yang didapat tidak besar, maka belum tentu mereka merasa kekurangan. Menariknya, ide kreatif terkadang muncul ketika mahasiswa kekurangan uang jajan.

Setiap bulan Venny mendapat uang jajan Rp1,5 juta per bulan. Mahasiswi jurusan Broadcast ini mengaku tidak pernah kekurangan. Meski demikian, cewek yang kuliah di Universitas Indonesia (UI) ini punya cara sendiri jika mengalami kekurangan uang. 

"Selain memakai tabungan, saya jualan binder secara online," kata Venny.

Koneksi Internet Lelet, ITS Gandeng Google

Tahun baru, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pun berupaya meningkatkan pelayanan terhadap para mahasiswa. Salah satunya dalam bidang pelayanan internet mahasiswanya, Badan Teknologi dan Sistem Informasi (BTSI) ITS melakukan kerja sama dengan perusahaan search engine dunia, yakni Google. 

Sebagai langkah awal, BTSI ITS meresmikan migrasi email resmi ITS dari webmail ke gmail. Kepala Pusat layanan Teknologi Informasi ITS Arief Rahman mengungkap, kerjasama tersebut dilakukan karena melihat kebutuhan mahasiswa ITS. Sebagai civitas academica kampus teknik, aktivitas mahasiswa ITS tak pernah lepas dari jeratan Teknologi Informasi (TI). Namun, kebutuhan tersebut selama ini belum bisa terpenuhi dengan maksimal karena minimnya infrastruktur.

''Banyak mahasiswa yang komplain kepada kami tentang koneksi lelet, kurang stabil hingga jaringan internet putus. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, BTSI berani menjalin kerjasama dengan perusahaan search engine Google," kata Arief, seperti disitat dari ITS Online, Rabu (27/2/2013).

Untuk kerjasama perdana, BTSI memindahkan email resmi ITS yang sebelumnya webmail menjadi gmail. Arief menjelaskan, pemindahan ini dilakukan untuk meningkatkan layanan terhadap pengguna email resmi ITS. Pasalnya, dengan menggunakan gmail, kapasitas penyimpanan email akan bertambah hingga 25 gigabyte.

Selain itu, tingkat keamanan gmail tinggi dan fitur yang ditawarkan lebih variatif. Meski telah dipindah menjadi gmail, domain yang terdaftar tetap milik ITS sehingga proses pengawasan dan pengelolaan email sepenuhnya dilakukan oleh BTSI ITS. ''Sebelum kami resmikan hari ini, kami sudah melakukan uji coba di tiga jurusan dan hasilnya lancar, tidak ada masalah,'' urainya.

Oleh sebab itu, supaya dapat segera dinikmati, Arief menyarankan kepada seluruh mahasiswa ITS untuk secepatnya memindah akun webmail mereka ke gmail. Caranya, dengan log in ke webmail ITS terlebih dahulu. Kemudian klik link migrasi dan log in ke gmail.its.ac.id. ''Tidak sampai 10 detik akun kita akan pindah,'' imbuh Arief.

Selain email, dalam waktu dekat kerjasama akan berlanjut dalam pembuatan kalender akademik. Nantinya, kalender akademik ITS akan terintegrasi dengan Google kalender.

"Sehingga secara otomatis Google akan mengingatkan jadwal akademik bagi mahasiswa yang menggunakan produk Google. Misalnya jadwal ujian semester, minggu perkuliahan, hingga pembayaran SPP,'' paparnya.

Bahkan, email orangtua mahasiswa nantinya juga akan diintegrasikan dengan Google. Sehingga, proses pemberitahuan hasil studi mahasiswa selama satu semester tidak lagi lewat surat melainkan lewat email yang secara otomatis dikirim lewat Google.

Arief berharap, kerjasama ini dapat semakin menunjang sistem pendidikan yang ada di ITS. Selain itu, terbentuknya cloud community juga menjadi salah satu tujuan utama yang tidak kalah penting. ''Kami sekarang sudah mulai menerapkannya,'' tutup Arief.

Faisal Jamil, Pak Guru Superstar dari Tambora


Suasana sebuah kelas di salah satu sekolah dasar (SD) Tambora, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) riuh rendah. Sudirman, salah satu siswa kelas empat, berdiri di depan kelas memegang buku catatan. 

"Lampu... Kamera... Action!" seru teman-teman sekelas dan Faisal Jamil, sang guru. 

Usai aba-aba itu, Sudirman pun mulai bercerita, sesuai catatan di bukunya. 

Siang itu, Pak Guru Faisal sedang mengajarkan kemampuan bicara di depan umum kepada murid-muridnya. Untuk mengatasi kegugupan, Faisal dan murid lainnya memperlakukan siswa yang kena giliran maju ke depan kelas layaknya "Superstar". Metode pengajaran yang diusung Sarjana Teknik Elektro ini memang lain dari kebanyakan guru di daerah Terdepan, Terluar, terpencil (3-T) tersebut. 

Kiprah Faisal sebagai salah satu Pengajar Muda dari program Indonesia Mengajar besutan Anies Baswedan ini pun direkam. Dalam liputan mendalamnya, 101 East - Al Jazeera, mengangkat potret keseharian Faisal sebagai guru di daerah terpencil ke dalam gambaran besar buruknya sistem pendidikan Indonesia

Al Jazeera, Rabu (17/2/2013) melansir, ketika Faisal sampai di Tambora 2012 lalu, lajang 23 tahun ini terkejut dengan keadaan yang harus dihadapinya; masyarakat hidup dalam keadaan minim dan terbatasnya aliran listrik. Faisal dapat melihat, siswa di kota besar Indonesia mendapatkan pendidikan yang lebih baik. 

Faisal menilai, banyak yang harus dikejar dalam sistem pendidikan Tanah Air, mengingat antusiasme siswa untuk belajar sangat tinggi. 

"Terutama soal pemerataan pendidikan. Para siswa ini belum tahu apakah mereka akan melanjutkan pendidikan karena mereka tidak tahu akankah ada guru yang mengajar? Ini tugas saya untuk mendorong mereka," ujar Faisal. 

Di desa tanpa akses mobil dan berjarak delapan jam dari bandara terdekat ini Faisal megajar siswa kelas empat. Di Tambora, hanya dua dari empat guru yang datang mengajar. Dan mereka hanya lulusan SMA. 

"Kalau guru jarang hadir, Pak Guru Faisal yang menggantikan," kata Yusika, salah satu murid Faisal. 

Pria yang pernah bekerja di perusahaan telekomunikasi besar di Jakarta itu juga harus membantu guru-guru lain dengan kelas mereka. Terkadang, para guru ini harus bekerja sampingan untuk menjaga dapur tetap mengepul. 

"Kedatangan guru sangat minim. Hanya satu atau dua yang datang. Selain itu, mereka memiliki metode pengajaran yang kaku. Sering kali para guru ini juga tidak memperhatikan para siswa mereka, sementara saya tidak bisa begitu," imbuhnya. 

Salah salah satu program yang diterapkan Faisal ke anak didiknya adalah "Buku Curhat". Di buku ini, para siswa bebas menuliskan cerita atau menggambar apa saja. Awalnya dia hanya ingin mengajarkan para siswanya kebiasaan menulis dan mengungkapkan perasaan. Setiap cerita dibaca dan dikomentari Faisal, sekaligus membetulkan kalimat dan tata bahasanya. Pada akhirnya, proyek ini juga membuat Faisal lebih mengenal para siswanya secara pribadi. 

Keberadaan Faisal menginspirasi para muridnya, seperti Yusika. Gadis mungil ini mengaku senang mendapat guru seperti Faisal. Pak Guru Faisal, kata Yusika, mengajarinya banyak hal, baik di kelas maupun luar kelas. 

"Saya selalu mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan Pak Guru. Saya juga ingin menjadi guru supaya saya bisa mengajar matematika," ungkap penyuka pelajaran matematika tersebut. 

Hampir setiap desa di Indonesia memiliki sekolah dasar, tapi hanya sepertiga penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan setingkat sekolah dasar tersebut. Banyak di antara mereka kemudian putus sekolah usai sekolah dasar baik karena keterbatasan ekonomi maupun karena terbatasnya akses pendidikan. 

Alumnus Universitas Indonesia ini mengilustrasikan, di Tambora, siswa sangat kesusahan untuk sampai ke sekolah. Para siswa harus bertemu dengan hewan-hewan liar di hutan, termasuk babi hutan. Ketika hujan, ada kemungkinan pohon tumbang. 

"Sebagian besar siswa ada yang terpaksa tinggal di rumah dan bekerja di ladang, jika tidak, maka dari mana mereka akan makan?" tuturnya.

Faisal mengaku, ketika bergabung dengan Indonesia Mengajar, dia tidak berpikir berpikir harus tinggal di daerah yang begitu terpencil. Tetapi ketika mengetahui tempatnya mengajar adalah desa yang berdekatan dengan gunung berapi, dia pun tahu bahwa ini akan menjadi pengalaman sekali seumur hidup. 

"Orangtua saya juga awalnya tidak setuju saya meninggalkan pekerjaan saya di Jakarta dengan gaji yang memadai. Mereka bertanya, 'Apa yang akan kamu lakukan di sana?' Tetapi mengajar siswa-siswa kelas tiga dan empat ini memberikan pengalaman hidup yang sangat berharga bagi saya," ujar Faisal.

"Guru Indonesia Banyak yang Kuno"


Para pakar pendidikan Indonesia menyatakan bahwa setengah dari jumlah guru di Tanah Air tidak memiliki kualifikasi yang layak untuk mengajar, dan 20 persen dari jumlah guru yang ada sering kali tidak menunaikan kewajiban mereka sebagai pengajar. Selain itu, banyak guru di sekolah negeri bekerja di luar sekolah untuk menambah penghasilan. 

Dari kacamata seorang murid SMA, Artika Nuswaningrum, persoalan guru di Indonesia juga menyangkut peningkatan kualifikasi mereka sebagai seorang pengajar. Dalam sebuah liputan mendalam tentang pendidikan Indonesia yang dilansir Aljazeera, Rabu (27/2/2013), Artika menyebut, banyak guru Indonesia yang kuno, meski tidak semua. Banyak di antara para guru yang belum bisa memakai komputer. 

"Jika guru-guru Indonesia sama majunya dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Australia, maka kondisinya akan berbeda," ujar Artika. 


Menurut Artika, kekunoan para guru itu mengurangi kesempatan siswa bereksplorasi. Dia menilai, jika para siswa diberikan kesempatan untuk mempelajari berbagai hal secara lebih detail, mungkin pelajar Indonesia akan lebih baik dari sekarang. "Kami juga kekurangan fasilitas modern untuk meningkatkan minat siswa untuk belajar, ini yang menjadi masalah," tuturnya. 



Gadis 17 tahun ini juga percaya, kompleksnya pelajaran yang dibebankan ke siswa menjadi masalah lainnya dalam dunia pendidikan Indonesia. Artika mengilustrasikan, dia harus mempelajari hingga 17 mata pelajaran berbeda dalam satu tahun ajaran. Calon diplomat ini menilai, pendidikan di Indonesia terlalu menekankan kuantitas, bukan kualitas. 



"Indonesia punya banyak hal bagus dalam berbagai bidang, tapi enggak spesifik ahli di satu bidang tertentu. Mungkin salah satu alasannya adalah karena siswanya mempelajari begitu banyak materi pelajaran dalam satu waktu," imbuhnya. 


Menurut Rektor Universitas Paramadina, yang juga penggagas Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, Indonesia memiliki tantangan tersendiri dari aspek guru. Secara kuantitas, Indonesia memiliki jumlah guru yang cukup banyak. Sayangnya, ujar Anies, persebarannya tidak merata. Selain itu, hanya setengah dari total guru Indonesia yang memiliki kualifikasi untuk mengajar.
"Sekira 66 persen sekolah-sekolah di daerah terpencil tidak memiliki jumlah guru yang cukup untuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Kalaupun ada guru, kualitasnya juga tidak bagus," kata Anies.

Nilai Moral Akan Perbaiki Mutu Pendidikan Indonesia


Melalui Kurikulum 2013, pemerintah berusaha membuat perubahan dalam dunia pendidikan Indonesia. Salah satunya dilakukan dengan mengedepankan pendidikan berbasis nilai (values) ketimbang pendekatan sainstik. 

Dalam sebuah liputan mendalam, Aljazeera memotret buramnya pendidikan Tanah Air sebagai imbas berbagai persoalan. Mulai dari minimnya akses pendidikan di daerah terpencil, persebaran guru yang tidak merata, rendahnya mutu guru, hingga wabah korupsi di semua bidang. 

Dilansir Aljazeera, Rabu (27/2/2013), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh mengatakan, meski telah menganggarkan 20 persen dari total APBN untuk pendidikan, Indonesia memang masih berjuang dalam menemukan sistem pendidikan yang ideal. Dan perjuangan itu, dalam waktu dekat akan diwujudkan melalui penerapan kurikulum baru, Juli mendatang. 

Menurut Nuh, kajian tentang kurikulum menunjukkan, Indonesia bukanlah negara yang terisolasi. Sebaliknya, Indonesia merupakan bagian dari komunitas global, sehingga Indonesia pun harus berkompetisi dengan seisi dunia. "Kita akan melihat perubahan dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang," ujar Nuh. 

Salah satu perubahan mendasar dalam kurikulum pendidikan Indonesia adalah mengedepankan pendidikan berdasarkan nilai, seperti agama, nasionalisme, serta menghapus beberapa mata pelajaran sains. "Ini bukan nasionalisme dalam arti sempit, tetapi tentang mengenal negaramu sendiri, dan yang menjadikan identitas sebagai bangsa Indonesia," Nuh mengimbuh. 

Pendidikan berbasis nilai ini, bagi siswi SMA, Artika Nuswaningrum, cukup rasional. Gadis 17 tahun itu merasa, pelajaran tentang nasionalisme yang didapatnya di sekolah cukup berharga. Dia mengaku, mendapat banyak pengetahuan tentang sistem pemerintahan dan sejarah negara Indonesia. 

"Ketika lulus, kami akan berkerja di komunitas internasional. Kami harus mengenal negara kami dan mengetahui apa yang ingin dicapai Indonesia, dan apa yang negara kami perjuangkan," kata Artika. 

Dukungan terhadap pendidikan berbasis nilai juga diberikan oleh para pakar pendidikan. Bahkan, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Arief Rachman mendorong penambahan jam pelajaran agama dari dua menjadi empat jam pelajaran selama seminggu. 

"Pertama, siswa perlu mempercayai adanya Tuhan. Itu yang paling penting. Siswa perlu memiliki kekuatan spiritual. Saya tidak akan menganggap Anda orang Indonesia jika Anda tidak percaya Tuhan, atau perasaan keadilan, kemanusiaan, dan demokrasi," tutur Arief.

Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan sependapat. Menurutnya, penambahan kuantitas pendidikan berbasis nilai akan cocok diterapkan di negara yang sedang berjuang melawan penindasan (bullying) dan kekerasan antarpelajar (tawuran). 

"Pendidikan memproduksi orang-orang dengan karakter yang baik, khususnya integritas. Kita harus memerangi korupsi, dan korupsi bertalian erat dengan integritas. Begitu seseorang memiliki integritas, maka pengetahuan pun akan datang dengan sendirinya."

Ki Hajar Dewantara: Mendidik Manusia Merdeka

“Sampai saat ini saya tidak pernah mendengar nama Ki Hajar Dewantara disebutkan dalam Pembahasan Kurikulum 2013,” Kata Darmaningtyas yang menjadi salah satu tim penyusun kurikulum 2013.

SANGAT memprihatinkan, sebelumnya pendidikan kita telah menafikan agama, kini akan meniadakan sejarah. Banyak yang mengenal Ki Hajar sebatas nama, bukan pemikiran-pemikirannya yang revolusioner. Apalah arti sebuah nama jika kita tidak pernah mengenal apa yang mereka perjuangkan.

Sebelum Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara telah memiliki pemikiran pendidikan yang cukup visioner. Buah pemikiran tersebut dapat kita baca pada “Azas Tamansiswa 1922.” Pemikiran itu jika kita telaah ulang masih terasa sangat relevan dengan realita hari ini. Rugi rasanya jika kita membiarkan harta karun ini disia-siakan sedangkan kita asyik merujuk ke Cambridge University.

Azas ini terdiri dari tujuh pasal yaitu tentang Kemerdekaan Diri, Kemerdekaan Pikiran, Dasar Kebudayaan, Kemandirian, Hidup Sederhana, dan Keikhlasan. Ketujuh pasal inilah yang menjadi pondasi dasar Taman Siswa.

Pada pasal pertama, Ki Hajar menekankan kemerdekaan individu untuk mengatur dirinya sendiri. “Dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap orang untuk mengatur dirinya sendiri.” Kemerdekaan ini harus tetap mengacu pada rambu “tertib – damainya hidup bersama”. Kemerdekaan yang Ki Hajar maksud bukanlah kebebasan yang membuat orang lain gelisah. Merdeka juga harus menghormati hak dan kewajiban orang lain.

Ki Hajar sangat tidak setuju dengan pendidikan yang menggunakan perintah, paksaan dan larangan. Bagi beliau, pendidikan cara lama ini telah mematikan kodrat alam seorang anak. Seorang guru haruslah Tut Wuri Handayani. Ki Hajar menjelaskan Tut Wuri Handayani dalam tulisan beliau tentang pendidikan sebagai berikut :

Kemajuan yang sejati hanya dapat diperoleh dengan perkembangan kodrati yang terkenal sebagai evolusi. Dasar kodrat alam inilah yang kemudian mewujudkan system pamong kita, dalam cara mana guru-guru kita menjadi pamong, yaitu sebagai pemimpin yang berdiri di belakang dengan bersemboyan Tut Wuri Handayani , yakni tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada anak – anak didik untuk berjalan sendiri, tidak terus menerus dituntun” dari depan. Dengan begitu, maka si- pamong hanya wajib menyingkirkan segala apa yang merintangi jalannya anak-anak serta hanya bertindak aktif dan mencampuri gerak-geriknya apa bila anak-anak sendiri tidak dapat menghindarkan diri dari bahaya yang mengancam keselamatannya.

Tut Wuri Handayani yang dimaksud oleh Ki Hajar bukanlah kemerdekaan peserta didik yang tanpa batas. Seorang guru tetap harus membimbing anak didik agar tetap selamat mewujudkan apa yang anak didik cita-citakan.


Ki Hajar juga mementingkan kemerdekaan berpikir sang anak. Anak didik dibiasakan sejak dini untuk mencari sendiri pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri. Anak didik jangan selalu dipelopori untuk selalu mengakui cara berpikir orang lain. Kemerdekaan pikiran inilah yang termaktub dalam pasal dua Azas Taman Siswa.

Kemerdekaan berpikir yang dinyatakan oleh Ki Hajar Dewantara bukan kemerdekaan berpikir yang liberal (bebas tanpa batas). seperti apa yang beliau katakan, “ Hendaknya jangan pula dipelopori, namun berilah kebebasan secukupnya kepada mereka.” Tapi tidak jelas indikator secukupnya itu apa. Apakah perasaan manusia? Atau menurut Allah SWT ?.

Pemikiran Ki Hajar Dewantara menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia haruslah pendidikan yang memerdekakan siswa. Pendidikan harus membimbing anak-anak agar menjadi orang-orang yang sungguh merdeka lahir dan batin.

Kemerdekaan ini sangat perlu diwujudkan ketika masih banyak individu di negeri ini yang belum merdeka seutuhnya. Mereka masih dibuat miskin oleh sistem ekonomi kapitalis. Masih banyak yang dibayangi ketakutan ancaman PHK, dst.

Sudah saatnya kita lebih mengenal pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara. Bukan hanya sebatas nama, tetapi lebih dari itu. Apalah arti sebuah nama jika kita tidak pernah mengenal apa yang mereka perjuangkan.

Muhammad Ihsan
Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

"Pendidikan Indonesia Zaman Batu Itu Berlebihan"


Dalam laporan yang dirilis Aljazeera, sistem pendidikan Indonesia disebut menyerupai pendidikan di zaman batu pada era globalisasi. Hal ini disebabkan peringkat sistem pendidikan Indonesia yang berada pada urutan terakhir di antara 50 negara lainnya. 

Namun, pernyataan tersebut dianggap Pengamat Pendidikan dari Universitas Paramadina M Abduhzen terlalu berlebihan. "Budaya zaman batu tidak sekolah. Jadi terlalu berlebihan jika pendidikan Indonesia dikatakan demikian," tutur Abduhzen ketika dihubungi Okezone, Rabu (27/2/2013).

Meski demikian, Abduhzen setuju jika sistem dan metodologi pendidikan di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lainnya. Sebut saja budaya pengajaran yang berjalan satu arah, minimnya tugas membaca, serta penekanan budaya menghafal daripada berpikir kreatif.

"Riset pendidikan yang dilakukan oleh Prof. Dedy pada era 70-an saya kira masih relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Satu problem kronis dalam pendidikan kita adalah praktik kelas yang membosankan karena pelajaran satu arah, kapasitas guru minimal, dan metodologi pembelajaran yang menjemukan," paparnya.

Abduhzen menilai, sudah banyak upaya yang dilakukan pemerintah maupun berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Tanah Air. Namun, upaya tersebut tidak dapat berhasil jika hanya dilakukan pada kulit luar.

"Sudah ada upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah. Tapi itu kurang mendasar sehingga hasilnya belum dapat terlihat," imbuh Abduhzen.

Pendidikan Indonesia seperti Zaman Batu di Era Globalisasi


Banyak bukti menunjukkan masih minimnya kualitas pendidikan di Indonesia. Dari segi fasilitas, tercatat masih ratusan ribu sekolah rusak di penjuru Nusantara. Dari segi sistem, pemerintah masih mencari kurikulum yang paling ideal untuk diterapkan. Belum lagi rendahnya mutu guru di Tanah Air dan persebarannya yang tidak merata, ikut memperburuk kondisi pendidikan Indonesia. Ironis, padahal Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi nomor tiga tertinggi di Asia. 

Potret negatif pendidikan Tanah Air tersebut tidak luput dari kacamata dunia. Al-Jazeera, salah satu stasiun televisi berita dari Qatar, memotret buramnya dunia pendidikan Indonesia dalam reportase khusus 101 East. Seperti dilansir Al-Jazeera, Rabu (27/2/2013), reportase tersebut menyelidiki mengapa sistem pendidikan di Indonesia merupakan salah satu yang buruk di dunia. 

Liputan Al-Jazeera dititikberatkan pada cerita salah satu Pengajar Muda dari program Indonesia Mengajar besutan Anies Baswedan. Sarjana Teknik berusia 23 tahun ini meninggalkan kemewahan Jakarta untuk mengajar di daerah Tambora, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebelum diberangkatkan ke daerah Terluar, Terdepan, Tertinggal (3T) di seluruh Indonesia, para Pengajar Muda dibekali latihan bertahan hidup ala militer. 

Al Jazeera menyebut, belum lama ini Indonesia berada pada peringkat akhir dalam pemeringkatan taraf pendidikan yang menghitung tingkat literasi, hasil ujian, tingkat kelulusan dan parameter kunci lainnya dari 50 negara. Selain itu, hanya sepertiga dari 57 juta anak usia sekolah di Indonesia yang menyelesaikan jenjang pendidikan dasar. Minimnya kondisi pendidikan di Indonesia juga diperparah dengan rendahnya mutu pengajar dan wabah korupsi di berbagai bidang. 

Para praktisi dan pengamat pendidikan menilai, sistem pendidikan Indpnesia lebih menekankan pendidikan menghafal ketimbang berpikir kreatif. Budaya pengajaran satu arah, pendekatan kaku dalam pendidikan keagamaan, serta minimnya tugas membaca diidentifikasi sebagai persoalan-persoalan utama. 

Para pakar pendidikan Indonesia menyatakan bahwa setengah dari jumlah guru di Tanah Air tidak memiliki kualifikasi yang layak untuk mengajar dan 20 persen dari jumlah guru yang ada sering kali tidak menunaikan kewajiban mereka sebagai pengajar. Selain itu, banyak guru di sekolah negeri bekerja di luar sekolah untuk menambah penghasilan. 

Korupsi juga merajalela di sekolah dan perguruan tinggi. Banyak orangtua terpaksa menyuap sekolah agar anak-anak mereka lulus tes masuk, atau membayar fasilitas yang seharusnya disediakan oleh negara. Indonesian Corruption Watch (ICW) mengklaim, hanya sedikit sekolah Indonesia yang bersih dari korupsi, dengan 40 persen biaya operasional sekolah yang seharusnya menjadi jatah mereka "disunat" sebelum sampai ke ruang kelas. 

Sementara itu, jutaan dolar bantuan pendidikan digelontorkan berbagai negara asing untuk memperbaiki sistem pendidikan Indonesia. Angka ini tidak sebanding dengan jumlah yang dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk pendidikan dari APBN. Beberapa observer internasional juga mempertanyakan mengapa Indonesia masih mengandalkan pendanaan luar untuk pembangunan sekolah mengingat status Indonesia dari Bank Dunia sebagai negara dengan penghasilan menengah. 

Merespons berbagai kritik tersebut, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan kurikulum baru sebagai usaha menyederhanakan pendidikan, mengurangi angka putus sekolah, dan menciptakan lebih banyak doktor. Salah satu kontroversi yang bergulir seputar kurikulum baru ini adalah pengurangan jumlah belajar pendidikan sains, geografi dan bahasa Inggris di sekolah dasar, serta meningkatkan jumlah pendidikan nasionalisme dan patriotik. 

Banyak pendidik mempertimbangkan kondisi ini dapat mendorong Indonesia kembali ke "zaman batu" di era globalisasi. Mereka berpendapat, usia dini adalah saatnya memberikan berbagai formula pendidikan yang merangsang kemampuan berpikir anak-anak, terutama mengingat tingginya angka putus sekolah usai jenjang sekolah dasar ini. 

Tetapi pemerintah membela diri dengan menyatakan bahwa perubahan kurikulum akan menyederhanakan sistem sekolah yang dikritik karena membebankan terlalu banyak subjek pelajaran kepada para siswa.

Senin, 25 Februari 2013

Bersiap Daftar Beasiswa Pemerintah Australia!


Pemerintah Australia melalui lembaga AusAID memberikan beasiswa kepada pelajar internasional melalui Australia Awards Scholarships (AAS). AAS dulu dikenal sebagai Australian Development Scholarships. 

AAS adalah program beasiswa jangka panjang dari Pemerintah Australia. Program ini memberikan kesempatan kepada pelajar dari negara berkembang untuk mengambil studi sarjana maupun pascasarjana di berbagai perguruan tinggi mitra AusAID. Kesempatan studi dan riset yang disediakan AAS dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuan individu untuk menggerakkan perubahan dan berkontribusi dalam pembangunan negara mereka. 

Program beasiswa ini menawarkan beasiswa penuh meliputi biaya studi, biaya transportasi pesawat kelas ekonomi ke dan dari Australia, tunjangan hidup untuk membiayai akomodasi, buku teks, dan materi kuliah lainnya. Tunjangan ini diberikan hanya satu kali sebesar 5.000 dolar Australia. Selain itu, penerima beasiswa juga akan mendapat tunjangan biaya kebutuhan sehari-hari sebesar 3.000 dolar Australia per tahun. Demikian seperti dikutip dari laman resmi Australia, Selasa (12/2/2013). 

Scholars (penerima beasiswa) juga akan mendapat fasilitas program perkenalan akademik (IAP) selama empat hingga enam minggu. Program ini akan memberikan gambaran utuh tentang pendidikan dan kehidupan di Australia. 

AusAID juga akan memberikan asuransi kesehatan bagi pelajar internasional (OSHC) selama periode beasiswa. Asuransi ini akan menutupi kebutuhan medis dasar para scholar, kecuali penyakit yang sudah diderita sejak di negara asal. Tidak hanya itu, scholars akan mendapat biaya kursus bahasa Inggris dan biaya penunjang kegiatan akademik lainnya. 

Tertarik? Simak informasi lengkap tentang AAS dan unduh buku panduannya di laman resmi Pemerintah Australia atau kirimkan email ke alamat info@australiaawardsindo.or.id. Periode pendaftaran AAS dimulai pada 1 Maret 2013 dan ditutup pada 31 Agustus 2013, ya. Jadi, masih ada waktu untuk bersiap.

Beasiswa S-2 di University of Bradford, Inggris


University of Bradford menawarkan beasiswa bagi para pelajar dari negara berkembang untuk meraih gelar Master, kecuali MBA. Sedikitnya tersedia tiga beasiswa meliputi semua biaya kuliah dan akomodasi, serta biaya hidup sehari-hari hingga 3.500 poundsterling per tahun. Secara total, beasiswa ini bernilai sekira 20 ribu poundsterling. 

Program beasiswa ini diluncurkan untuk membantu para pelajar dengan kesulitan finansial karena berdomisili di negara yang sedang mengalami krisis akibat situasi politik, perang, bencana alam, dsb. Syarat utama mendapatkan beasiswa ini adalah pelamar harus sudah diterima sebagai mahasiswa pascasarjana di University of Bradford, Inggris. Namun, beasiswa ini tidak berlaku bagi mahasiswa yang mengambil kuliah online atau jarak jauh. 

Perlu diingat, tanggal yang tertera pada surat penerimaan mahasiswa dari University of Bradford tidak boleh lebih dari 17 Mei 2013. Karena itu, segeralah melamar mengingat masih cukup waktu tersedia. 

Kirimkan formulir pendaftaran beserta surat penerimaan dari kampus dan dokumen kelengkapan lainnya melalui email scholarships@bradford.ac.uk. Berkas lamaran juga bisa dikirimkan melalui pos sebelum 10 Juni 2013. 

Laman University of Bradford, Kamis (14/2/2013) melansir tips agar sukses menembus seleksi beasiswa ini; 

- Ketimbang mendeskripsikan situasi apa yang sedang terjadi di negaramu, terangkan bagaimana situasi tersebut memengaruhimu secara personal. 
- Jangan hanya kirimkan curriculum vitae (CV), tetapi juga bukti-bukti yang mendukung pernyataan personalmu. Pihak kampus juga bisa jadi akan meminta bukti-bukti ini jika berkasmu lolos seleksi awal.
- Jangan fokus pada kualifikasi akademik, kecuali itu relevan dengan aplikasimu. 
- Beasiswa ini akan diberikan dalam jumlah yang tidak sedikit, jadi pihak kampus berharap melihat keseriusan para pelamar dalam melengkapi berkas lamarannya. Berikanlah semua informasi yang relevan dan detail dalam aplikasi beasiswamu.

Informasi lengkap tentang beasiswa ini bisa disimak di laman University of Bradford.

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM)

Didasari kesadaran penuh atas adanya kesenjangan antara teori yang diperoleh mahasiswa dengan realita kebutuhan masyarakat dan munculnya tuntutan masyarakat atas mutu lulusan perguruan tinggi yang mandiri dan siap mengantisipasi arah pengembangan bangsa, pada tahun 1997 Direktorat Penenlitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, DITLITABMAS merealisasikan Program Pengembangan Budaya Kewirausahaan di Perguruan Tinggi (PBKPT). Salah satu komponen program kunci di dalamnya adalah Program Karya Alternatif Mahasiswa (KAM). Program ini hanya dapat diakses dan dilaksanakan mahasiswa sedangkan program lainnya seperti Kuliah Kewirausahaan (KWU), Kuliah Kerja Usaha (KKU), Magang Kewirausahaan (MKU), Konsultasi Bisnis dan Penempatan Kerja (KBPK) dan Inkubator Wirausaha Baru (INWUB), proposal diajukan kelompok dosen namun wajib menyertakan mahasiswa sebagai pelaku lapangan. KAM merupakan wahana kreasi bagi mahasiswa dalam menciptakan produk (barang atau jasa) yang akan menjadi komoditas usahanya kelak. Sedangkan pematangan sebagai entrepreneur dilakukan pada program INWUB. Dengan demikian, PBKPT merupakan satu kesatuan program pendorong Perguruan Tinggi (PT) dalam menghasilkan enter- ataupun teknopreneur dari kampus.

Dalam perkembangannya, KAM terasa sangat membatasi ruang kreasi mahasiswa yang memiliki minat, bakat dan intelektual beragam. Pada tahun 2001, DITLITABMAS kemudian mengembangkan KAM menjadi Program Kreativitas Mahasiswa yang membuka peluang mahasiswa dalam berkarya seluas para dosennya. Sejak saat itu dikenal berbagai jenis Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), yaitu: PKM-Penelitian (PKMP), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dan PKM-Penulisan Artikel Ilmiah (PKM-I). Pada tahun 2002, PKM bergabung dengan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dan Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) ke dalam program Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) di Surabaya.Atas kebijakan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, sejak tahun 2009 pelaksanaan Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) yang dahulunya bernama LKTM diintegrasikan pengelolaannya ke dalam PKM. Mengingat sifatnya yang identik dengan PKM-I, maka program KKTM dikelompokkan bersama PKM-I ke dalam PKM-Karya Tulis (PKM- KT). Untuk membedakannya, PKM-I diberi nama baru PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI) dan KKTM menjadi PKM-Gagasan Tertulis (PKM-GT) sesuai dengan sumber bahan penulisannya. Sesuai dengan sifat artikel yang dihasilkan, maka PKM-AI akan bermuara pada Jurnal Kreativitas Mahasiswa sedangkan PKM-GT menggantikan posisi PKM-AI di PIMNAS.

Download :

Program Mahasiswa Wirausaha (PMW)

Pada tahun anggaran 2009, Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional telah meluncurkan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) untuk dilaksanakan dan dikembangkan oleh perguruan tinggi. Program tersebut dilaksanakan diseluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan di beberapa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang diseleksi oleh Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) dengan alokasi dana yang berbeda-beda.

PMW bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan jiwa wirausaha (entrepreneurship) berbasis IPTEKS kepada para mahasiswa agar menjadi pengusaha yang tangguh dan sukses menghadapi persaingan global. Dalam rangka keberlanjutan, program ini juga bertujuan mengembangkan kelembagaan pada perguruan tinggi yang dapat mendukung pengembangan program-program kewirausahaan.Sebagai hasil akhir, diharapkan terjadinya penurunan angka pengangguran lulusan pendidikan tinggi yang pada kenyataannya menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.

Keberhasilan program ini setidak-tidaknya dilihat dari tiga indikator, yaitu (a) jumlah mahasiswa yang berhasil menjalankan usaha (sebagai wirausaha); (b) terbentuknya model pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi; dan (c) terbentuknya lembaga pengembangan pendidikan kewirausahaan yang tangguh dan mandiri yang mengkordinasikan berbagai kegiatan terkait kewirausahaan di perguruan tinggi yang bersangkutan.

Panduan ini disusun berdasarkan hasil revisi sesuai dengan berbagai masukan dan pertimbangan dari berbagai pihak serta pengalaman pelaksanaan PMW tahun 2009 di berbagai PTN. Diharapkan panduan ini khususnya dapat membantu PTN untuk merencanakan dan mengimplementasikan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) pada tahun 2010 dengan lebih efektif dan efisien dengan capaian optimal, yang sekaligus dapat dijadikan sebagai dasar untuk menentukan alokasi dana berbasis kinerja pada tahun anggaran berikutnya.

informasi lebih lanjut, silahkan klik link dibawah ini :

Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa

Seorang mahasiswa dan atau lulusan selain dituntut untuk memiliki kompetensi hardskill yang lebih banyak didapatkan pada kegiatan kurikuler juga harus memiliki keterampilan softskill yang diperoleh melalui kegiatan ekstra kurikuler. Salah satu bentuk kegiatan ekstra kurikuler adalah kegiatan berorganisasi baik di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), maupun Badan Eksekutif Mahasiswa, Senat Mahasiswa, dan atau Himpunan Mahasiswa yang menuntut pengetahuan dan keterampilan manajerial.

Dengan demikian bekal pengetahuan dan keterampilan manajerial untuk mengelola berbagai organisasi kemahasiswaan perlu dimiliki oleh para mahasiswa, terutama para mahasiswa yang terlibat langsung dan aktif di dalam kepengurusan organisasi kemahasiswaan baik di tingkat program studi, fakultas, maupun di tingkat universitas. Salah satu bentuk upaya untuk memberi bekal tersebut adalah melalui pelatihan-pelatihan yang salah satunya adalah Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) yang difasilitasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sejak tahun 1989 yang diawali dengan pelatihan untuk para pemandu.

Saat ini terdapat empat jenis LKMM yang terdiri atas LKMM Pra-Dasar dan Dasar yang dilaksanakan dan dibiayai sendiri oleh perguruan tinggi dengan berpedoman pada panduan dan kurikulum LKMM yang dikeluarkan oleh Dikti, serta LKMM Tingkat Menengah dan Lanjut yang langsung dikoordinasikan dan didanai oleh Dikti, melalui pengajuan proposal dan atau penunjukan.

Pedoman ini merupakan Pedoman Umum LKMM Tingkat Menengah yang disusun dengan maksud agar perguruan tinggi yang akan melaksanakan kegiatan LKMM yang dikoordinasikan Ditjen Dikti, memiliki gambaran tentang bagaimana mengusulkan, merencanakan, mengorganisasikan dan menyelenggarakan kegiatan.

Isi pedoman diawali dengan gambaran secara umum tentang semua jenis LKMM dan kurikulumnya yang dilanjutkan dengan uraian lebih terperinci tentang LKMM Tingkat Menengah.

Semoga pedoman ini bermanfaat bagi perguruan tinggi khususnya bidang kemahasiswaan yang dapat dijadikan sebagai salah satu upaya pembinaan organisasi mahasiswa sebagai wadah kegiatan ko dan ekstra kurikuler.

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan

Illah Sailah


Bantuan Dana Untuk Kegiatan Mahasiswa

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 12 ayat (1) b menyatakan bahwa setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Untuk itu, mahasiswa yang merupakan peserta didik sebagai generasi penerus perjuangan bangsa perlu dibekali dengan kemampuan yang memadai agar aset bangsa yang sangat potensial tersebut mampu bersaing dalam era Global. Para mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai bidang ilmu yang ditekuni di kampus, tetapi juga mengusai bidang lain yang dapat menunjang keberhasilan mereka di masa depan. Untuk mendukung harapan tersebut serta dalam rangka menyiapkan mahasiswa yang lebih berkualitas, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan memprogramkan bantuan dana untuk kegiatan kemahasiswaan.

Tujuan

Memberikan dukungan kepada para mahasiswa (perseorangan maupun kelompok) atau organisasi kemahasiswaan antarperguruan tinggi untuk meningkatkan penalaran, menyalurkan bakat, minat dan kemampuannya dalam bidang tertentu yang dapat menambah wawasan keilmuan, pembentukan karakter/sikap, dan keterampilan.


Buku Pedoman Beasiswa Bidikmisi 2013

Draft Pedoman Beasiswa Bidikmisi 2013 bisa diunduh pada alamat sebagi berikut :

Pedoman Penyelenggaraan Bidikmisi 2013

sumber : http://bidikmisi.dikti.go.id/portal/?p=1

Beasiswa PPA dan Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM)

PEDOMAN 
• BANTUAN BELAJAR MAHASISWA (BBM) 
• BEASISWA PENINGKATAN PRESTASI AKADEMIK (PPA) 

KATA PENGANTAR 

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikandan Kebudayaan berupaya mengalokasikan dana untuk memberikan bantuan biaya pendidikan kepada mahasiswa yang orang tuanya tidak mampu untuk membiayai pendidikannya, dan memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang mempunyai prestasi tinggi, baik di bidang akademik dan atau non akademik. Agar program bantuan biaya pendidikan dan beasiswa dapat dilaksanakan sesuai dengan prinsip 3T, yaitu: Tepat Sasaran, Tepat Jumlah, dan Tepat Waktu, maka Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menerbitkan pedoman. 

Penerbitan pedoman ini diharapkan dapat memudahkan bagi para pengelola agar penyelenggaraan program dapat terlaksana sesuai dengan harapan kita semua. Selain itu pedoman ini diharapkan juga dapat memudahkan bagi para mahasiswa yang akan mengusulkan sebagai calon penerima beasiswa, dan memudahkan bagi mahasiswa yang telah ditetapkan sebagai penerima beasiswa untuk menjalankan hak dan kewajibannya. 

Dengan terbitnya pedoman ini, proses penyaluran/ pemberian PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) dan BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa) kepada mahasiswa diharapkan akan berjalan dengan lebih baik, dan mahasiswa dapat mengikuti studinya dengan lancar yang diharapkan mampu meningkatkan prestasinya yang akhirnya dapat ikut andil dalam meneruskan perjuangan bangsa menuju pembangunan Indonesia sejahtera. 

Kepada para pimpinan perguruan tinggi dan Kopertis Wilayah kami harapkan dapat melakukan sosialisasi, seleksi dan pengelolaan/penyaluran bantuan biaya pendidikan dan beasiswa mengacu kepada pedoman ini. 

Akhirnya kami mengucapkan penghargaan dan terima kasih kepada tim penyusun dan semua pihak yang telah membantu dalam mewujudkan buku pedoman ini. 

Jakarta, Agustus 2010 

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi 

Djoko Santoso 



I. PENDAHULUAN 

A. LATAR BELAKANG 

Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Hak setiap warga negara tersebut telah dicantumkan dalam Pasal 31 (1) Undang-Undang Dasar 1945. Berdasarkan pasal tersebut, maka Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi, dan masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu diperlukan biaya yang cukup besar. Oleh karena itu bagi setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya, dan berhak mendapatkan beasiswa bagi mereka yang berprestasi. 

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab V pasal 12 (1.c), menyebutkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya. Pasal 12 (1.d), menyebutkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya. 

Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan, Bagian Kelima, Pasal 27 ayat (1), menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai kewenangannya memberi bantuan biaya pendidikan atau beasiswa kepada peserta didik yang orang tua atau walinya tidak mampu membiayai pendidikannya. Pasal 27 ayat (2), menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberi beasiswa kepada peserta didik yang berprestasi. 

Mengacu kepada Undang-undang dan Peraturan Pemerintah tersebut, maka Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – Kementerian Pendidikan Nasional, mengupayakan pemberian bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa yang orang tua/walinya kurang mampu membiayai pendidikan, dalam bentuk Bantuan Biaya Mahasiswa (BBM) dan Beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dalam bentuk Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA). 

B. DASAR 

1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 
2. Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan. 
3. Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. 

C. TUJUAN 

1. Meningkatkan akses dan pemerataan kesempatan belajar di perguruan tinggi bagi rakyat Indonesia. 
2. Mengurangi jumlah mahasiswa yang putus kuliah, karena tidak mampu membiayai pendidikan. 
3. Meningkatkan prestasi dan motivasi mahasiswa, baik pada bidang akademik/kurikuler, ko-kurikuler, maupun ekstrakurikuler. 

D. SASARAN 

1. Mahasiswa berprestasi (baik pada bidang akademik/kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstra kurikuler). 
2. Mahasiswa dengan prestasi minimal yang orang tua/wali-nya tidak mampu membiayai pendidikannya. 

II. KETENTUAN UMUM 

A. STATUS MAHASISWA 

1. Mahasiswa calon/penerima beasiswa adalah mahasiswa yang kuliah pada perguruan tinggi pengelola program beasiswa dari Kementerian Pendidikan Nasional. 
2. Mahasiswa calon/penerima beasiswa adalah mahasiswa yang masih aktif, dalam jenjang pendidikan Diploma dan Sarjana. 

B. WAKTU 

PPA dan BBM diberikan kepada mahasiswa aktif berdasarkan periode tahun anggaran berjalan Kementerian Pendidikan Nasional. 

C. ALOKASI 

1. Kuota calon penerima pada setiap perguruan tinggi ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 
2. Besarnya dana dialokasikan sesuai dengan DIPA Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sekurang-kurangnya Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) per mahasiswa per bulan. 

Khusus bagi mahasiswa baru diberikan mulai semester I dengan mempertimbangkan antara lain nilai ujian nasional dan nilai rapor. 

III. KETENTUAN KHUSUS 

A. PERSYARATAN 

1. Umum 

Diberikan dengan mempertimbangkan prestasi dan latar belakang memampuan ekonomi orang tua kepada mahasiswa: 

a. Jenjang S1/Diploma IV paling rendah duduk pada semester II dan paling tinggi duduk pada semester VIII. 
b. Diploma III, paling rendah duduk pada semester II dan paling tinggi duduk pada semester VI.
Mahasiswa yang memenuhi persyaratan tersebut di atas, mengajukan permohonan tertulis kepada Rektor/Ketua/Direktur atau pimpinan perguruan tinggi yang berwenang untuk mendapatkan bantuan dengan melampirkan berkas sebagai berikut: 

a. Fotokopi Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) dan Kartu Rencana Studi (KRS) atau yang sejenis sebagai bukti mahasiswa aktif. 
b. Fotokopi rekening listrik bulan terakhir dan atau bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari orang tua/walinya. 
c. Surat pernyataan tidak menerima beasiswa dari sumber lain di lingkungan Kemdiknas yang diketahui oleh Pimpinan Perguruan Tinggi Bidang Kemahasiswaan. 
d. Fotokopi kartu keluarga. 
e. Rekomendasi dari pimpinan Fakultas/Jurusan. 

2. Khusus 

Calon penerima wajib melampirkan: 

a. Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA): 

1) Fotokopi transkrip nilai dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) paling rendah 3,0 yang disahkan oleh pimpinan perguruan tinggi. 
2) Surat keterangan penghasilan orangtua/wali pemohon yang disahkan oleh pihak yang berwenang (bagi pegawai negeri/swasta disahkan oleh Bagian Keuangan, dan yang bukan pegawai negeri/swasta disahkan oleh Lurah/Kepala Desa). 

b. Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM): 

1) Surat Keterangan tidak mampu atau layak mendapat bantuan yang dikeluarkan oleh Lurah/Kepala Desa. 
2) Fotokopi transkrip nilai dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) paling rendah 2,50 yang disahkan oleh pimpinan perguruan tinggi. 
3) Fotokopi piagam atau bukti prestasi lainnya (ko-kurikuler dan atau ekstra kurikuler) yang diselenggarakan oleh Kemdiknas dan atau organisasi lain baik pada tingkat Nasional, Regional, maupun Internasional. 

Perguruan tinggi negeri/kopertis, karena alasan atau kondisi tertentu dapat menambahkan ketentuan dan atau syarat tambahan, termasuk mengubah batas IPK terendah. Penambahan dan atau perubahan dimaksud harus dilaporkan kepada Ditjen Dikti. 

B. PENETAPAN 

1. Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) 

a. Mahasiswa sebagai penerima beasiswa ditetapkan berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan dalam pedoman ini. 
b. Apabila calon penerima melebihi kuota yang telah ditetapkan, maka perguruan tinggi dapat menentukan mahasiswa penerima beasiswa sesuai dengan urutan prioritas sebagai berikut: 

1) Mahasiswa yang mempunyai IPK paling tinggi. 
2) Mahasiswa yang mempunyai SKS paling banyak (jumlah semester paling sedikit) 
3) Mahasiswa yang memiliki prestasi di kegiatan ko/ekstra kurikuler (olahraga, teknologi, seni/budaya tingkat internasional /dunia, Regional/Asia/Asean dan Nasional). 
4) Mahasiswa yang (orang tuanya) paling tidak mampu. 

2. Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM) 

a. Mahasiswa sebagai penerima beasiswa ditetapkan berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan dalam pedoman ini. 
b. Apabila calon penerima melebihi kuota yang telah ditetapkan, maka perguruan tinggi dapat menentukan mahasiswa penerima beasiswa sesuai dengan urutan prioritas sebagai berikut: 

1) Mahasiswa yang (orang tuanya) paling tidak mampu. 
2) Mahasiswa yang memiliki prestasi di kegiatan ko/ekstra kurikuler (olahraga, teknologi, seni/budaya tingkat internasional /dunia, Regional/Asia/Asean dan Nasional). 
3) Mahasiswa yang mempunyai IPK paling tinggi. 
4) Mahasiswa yang mempunyai SKS paling banyak (jumlah semester paling sedikit) 

IV. MEKANISME 

A. PERSIAPAN 

1. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemdiknas menetapkan kuota masing masing Perguruan Tinggi Negeri dan Kopertis. 
2. Pimpinan perguruan tinggi memberitahukan kepada semua mahasiswa melalui Fakultas dan atau Jurusan/Departemen atau sesuai dengan struktur organisasi perguruan tinggi yang bersangkutan. 
3. Pimpinan Kopertis Wilayah memberitahukan kepada Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta yang ada di wilayahnya. 
4. Setiap pimpinan Fakultas dan atau Jurusan/Departemen atau sesuai dengan struktur organisasi perguruan tinggi memberitahukan kepada semua mahasiswa secara terbuka. 

B. SELEKSI 

1. Pimpinan Perguruan Tinggi menyeleksi usulan mahasiswa calon penerima beserta beserta persyaratan yang telah ditentukan berdasarkan usulan yang telah diseleksi oleh setiap pimpinan Fakultas dan atau Jurusan/Departemen atau sesuai dengan struktur organisasi perguruan tinggi. 
2. Bagi Perguruan Tinggi Negeri, hasil seleksi ditetapkan oleh Rektor/Ketua/Direktur atau yang diberi wewenang untuk itu. 
3. Bagi Perguruan Tinggi Swasta, hasil seleksi diusulkan oleh Rektor/Ketua/Direktur atau yang diberi wewenang ke Kopertis Wilayah yang bersangkutan untuk ditetapkan sesuai dengan hasil seleksi administrasi yang mengacu pada kuota. 
4. Perguruan Tinggi Negeri dan Kopertis mengunggah (upload) hasil penetapan penerima (nama mahasiswa dan informasi lainnya sesuai form) melalui sistem informasi manajemen data beasiswa (http://simb3pm.dikti.go.id) dan mengirimkan Surat Keputusan (SK) Rektor/Ketua/Direktur/Koordinator Kopertis kepada Dikti dalam bentuk hardcopy (tanpa lampiran). 

C. PENYALURAN DANA 

1. Pimpinan Perguruan Tinggi menyalurkan dana kepada mahasiswa dengan perhitungan setiap bulan, dan penyalurannya dapat digabungkan beberapa bulan, maksimal setiap enam bulan. 
2. Pimpinan Kopertis Wilayah menyalurkan dana kepada mahasiswa melalui Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta dengan perhitungan setiap bulan, dan penyalurannya dapat digabungkan beberapa bulan, maksimal enam bulan. 
3. Penyaluran dana dari perguruan tinggi kepada mahasiswa disarankan melalui rekening mahasiswa atau pembayarannya melalui bank. 
4. Dana tidak boleh dipotong untuk keperluan apapun. 
5. Dana yang tidak tersalurkan dapat dialihkan kepada mahasiswa lain yang memenuhi persyaratan melalui keputusan Rektor/Ketua/Direktur/Koordinator Kopertis. Apabila masih terdapat sisa dana yang tidak dapat disalurkan, maka wajib dikembalikan ke Kas Negara. 
6. Apabila alokasi penerima PPA dan BBM kurang dari kuota yang telah ditetapkan, maka sisa dana wajib dikembalikan ke rekening Kas Negara. 

D. PENGHENTIAN 

Pemberian PPA dan BBM dihentikan apabila mahasiswa: 

1. Telah lulus; 
2. Mengundurkan diri/cuti; 
3. Menerima sanksi akademik dari Perguruan Tinggi; 
4. Tidak lagi memenuhi syarat yang ditentukan; 
5. Memberikan data yang tidak benar; 
6. Meninggal dunia. 

V. MONITORING DAN EVALUASI 

Agar program beasiswa PPA dan BBM tetap dapat dilaksanakan sesuai dengan pedoman dan atau ketentuan yang ditetapkan, Ditjen Dikti akan melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi sesuai panduan dan waktu yang akan ditentukan setiap tahun. 

VI. PELAPORAN 

Paling lambat pada bulan November tahun anggaran berjalan, Perguruan Tinggi Negeri dan Kopertis Wilayah wajib membuat laporan (dengan sistematika bebas) yang berisi penjelasan kualitatif sesuai terkait substansi pada laporan program (VI.A) didukung data kuantitatif dan atau visual yang merupakan ringkasan/rekapitulasi data dari http://simb3pm.dikti.go.id serta laporan keuangan (bukti transfer dan atau tandatangan mahasiswa) dalam bentuk hardcopy. 

A. LAPORAN PROGRAM 

Pelaporan program berprinsip pada 3T (Tepat Sasaran, Tepat Jumlah, & Tepat Waktu). 

1. Tepat Sasaran 

PPA dan BBM telah disalurkan kepada mahasiswa yang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dalam pedoman dengan menyebutkan jumlah mahasiswa putra dan putri. 

2. Tepat Jumlah 

a. Jumlah mahasiswa penerima beasiswa sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan. 
b. Apabila jumlah mahasiswa calon penerima PPA dan BBM yang memenuhi persyaratan melebihi dari kuota yang telah ditetapkan, maka Perguruan Tinggi Negeri dan atau Kopertis Wilayah menyampaikannya dalam laporan untuk mengusulkan tambahan kuota pada tahun berikutnya. 

3. Tepat Waktu 

PPA dan BBM telah disalurkan kepada mahasiswa sesuai dengan waktu sebagaimana diatur dalam mekanisme penyaluran dana. 

B. LAPORAN KEUANGAN 

Laporan keuangan terdiri atas daftar penerima disertai lampiran copy buku tabungan, bukti transfer, dan/atau tanda terima penyaluran PPA dan BBM dalam bentuk hardcopy yang disimpan di perguruan tinggi dan siap dikirimkan apabila diminta ke alamat: 

Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan 
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi 
Kementerian Pendidikan Nasional 
Gedung D Lt. 7 
Jalan Jenderal Soedirman Pintu I Senayan Jakarta 10270 

email: 
- belmawa@dikti.go.id
- subditmawa@dikti.go.id